Keamanan di sirkuit balap tidak hanya bergantung pada pembalap dan kendaraan, tetapi juga pada kesiapan petugas penyelamat dan evakuasi yang ditempatkan di sekitar lintasan. Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah bagaimana penempatan posisi petugas secara strategis dapat memengaruhi kecepatan respons tim evakuasi saat terjadi kecelakaan, yang seringkali menentukan selamat tidaknya seorang pembalap. Penelitian terbaru dari IMI menunjukkan bahwa penempatan petugas di setiap sektor sirkuit dengan jarak optimal dan visibilitas yang jelas dapat memangkas waktu respons hingga 40%, dari rata-rata 45 detik menjadi hanya 27 detik dalam situasi darurat. Melalui analisis penempatan posisi petugas, terungkap bahwa faktor kunci bukan hanya jarak fisik, tetapi juga kemampuan petugas untuk melihat titik kecelakaan secara langsung dan memiliki akses jalur bebas hambatan menuju lokasi.
Respon evakuasi yang cepat dimulai dari deteksi dini kecelakaan oleh marshal pos, yang kemudian mengirimkan sinyal ke pusat kendali dan tim medis. Petugas yang ditempatkan di titik dengan sudut pandang lebar dan tidak terhalang oleh pembatas atau bangunan dapat melaporkan kejadian dengan lebih akurat dan cepat. Penelitian ini mengukur kecepatan respon evakuasi dengan mensimulasikan berbagai skenario kecelakaan di sirkuit yang memiliki konfigurasi petugas berbeda, mulai dari posisi tetap di setiap tikungan hingga tim bergerak yang berpatroli. Hasilnya menunjukkan bahwa model pos tetap di setiap tikungan kritis, dengan tambahan tim cepat di sektor start/finish, memberikan waktu respons terbaik, terutama untuk kecelakaan yang melibatkan kebakaran atau pembalap terjepit.
Salah satu temuan penting adalah bahwa jalur evakuasi khusus yang tidak digunakan oleh kendaraan balap atau official sangat krusial untuk memastikan petugas dan ambulans dapat mencapai lokasi tanpa hambatan. Sirkuit yang memiliki jalur layanan di belakang pembatas (service road) menunjukkan waktu evakuasi yang jauh lebih singkat. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh posisi petugas sangat erat kaitannya dengan desain infrastruktur sirkuit secara keseluruhan. Temuan ini mendorong IMI untuk bekerja sama dengan pengelola sirkuit dalam merancang ulang penempatan pos marshal dan jalur evakuasi di beberapa sirkuit nasional, serta meningkatkan pelatihan koordinasi antar petugas.
Lebih jauh, penelitian ini juga menyoroti pentingnya teknologi pendukung seperti radio komunikasi yang andal dan sistem lampu peringatan yang terintegrasi. Dengan memahami optimalisasi evakuasi sirkuit, setiap gelaran balap dapat menjamin bahwa pertolongan pertama sampai kepada pembalap yang membutuhkan dalam “golden minute” yang sangat berharga. Pada akhirnya, penempatan posisi petugas yang tepat adalah cerminan dari profesionalisme penyelenggaraan balap, di mana keselamatan peserta ditempatkan di atas segalanya, dan setiap detik yang dihemat adalah peluang yang lebih besar untuk menyelamatkan nyawa.