Banyak pengendara di Gorontalo yang masih melakukan kesalahan fatal dengan mengabaikan luka gesek yang dianggap ringan. Padahal, luka gesek aspal atau yang secara medis dikenal sebagai road rash, bukan sekadar luka lecet biasa. Gesekan antara kulit dengan permukaan jalan yang kasar menciptakan panas yang dapat merusak lapisan dermis, bahkan terkadang membawa serpihan kerikil, debu, dan kuman masuk jauh ke dalam jaringan. Jika tidak segera dibersihkan, risiko infeksi sistemik menjadi sangat besar, yang dapat memperlama proses penyembuhan hingga berbulan-bulan.
Langkah pertama dalam cara IMI Gorontalo memberikan pertolongan adalah dengan melakukan irigasi luka secepat mungkin. Menggunakan air mengalir yang bersih sangat krusial untuk menghanyutkan kotoran makroskopis dari area yang terluka. Di lapangan, sering kali pengendara merasa takut untuk menyiram luka karena rasa perih yang luar biasa, namun menunda pembersihan justru akan membuat kotoran “menyatu” dengan jaringan kulit saat mengering. Penggunaan sabun antiseptik ringan di sekitar pinggiran luka juga disarankan untuk memastikan area di sekeliling cedera tetap steril sebelum dilakukan penutupan.
Setelah luka bersih, langkah selanjutnya yang ditekankan oleh IMI adalah menjaga kelembapan luka. Berbeda dengan kepercayaan lama yang menyebut Luka Gesek Aspal harus dibiarkan kering dan mengelupas, dunia medis modern tahun 2026 justru menyarankan metode moist wound healing. Penggunaan salep antibiotik atau hydrogel akan membantu sel-sel kulit baru tumbuh lebih cepat tanpa terhambat oleh kerak yang keras. Selain itu, metode ini secara signifikan mengurangi rasa nyeri karena ujung saraf di permukaan kulit tidak terpapar udara secara langsung, yang sering kali menjadi pemicu rasa perih yang berdenyut.
Penutupan luka dengan benar juga menjadi faktor penentu. Hindari penggunaan kasa biasa yang mudah menempel pada luka, karena saat dilepas, jaringan kulit baru yang sedang tumbuh akan ikut tercabut kembali. Gunakan perban non-adheren yang dirancang khusus untuk luka basah. Di wilayah Gorontalo, di mana suhu udara cukup lembap, penggantian perban secara rutin minimal dua kali sehari sangat dianjurkan untuk mencegah pertumbuhan bakteri anaerob. Selama proses penyembuhan, pengendara harus memantau tanda-tanda infeksi seperti kemerahan yang meluas, rasa panas di area luka, atau munculnya nanah.