Survei Pasar Otomotif ASEAN: Mengapa Malaysia Berkembang Saat Thailand Merosot?

Survei pasar otomotif di kawasan ASEAN pada paruh pertama tahun 2024 mengungkapkan dinamika yang kontras dan menarik. Total penjualan kendaraan di Asia Tenggara secara keseluruhan menunjukkan penurunan, namun di tengah perlambatan ini, Malaysia berhasil menonjol dengan pertumbuhan penjualan yang positif, sementara Thailand justru mengalami kemerosotan tajam. Perbedaan performa ini mengundang pertanyaan mengenai faktor-faktor pendorong dan penghambat yang bekerja di masing-masing negara.

Secara agregat, Survei Pasar Otomotif mencatat penurunan penjualan sebesar 8,9% di ASEAN pada semester pertama 2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan total 1.492.308 unit terjual. Data yang dirilis pada Agustus 2024 ini menggarisbawahi adanya tekanan ekonomi regional, termasuk inflasi dan kenaikan suku bunga, yang secara langsung memengaruhi daya beli konsumen di sebagian besar negara.

Thailand, yang selama ini dikenal sebagai “Detroit-nya Asia” dan pusat produksi otomotif utama, mengalami pukulan paling telak. Penjualan mobil di negara tersebut anjlok hingga 24%, dengan hanya mencatat 307.671 unit terjual pada paruh pertama 2024. Kemerosotan drastis ini disebabkan oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah pengetatan persetujuan pinjaman kendaraan oleh bank-bank di tengah tingginya rasio utang rumah tangga dan pertumbuhan PDB yang melambat. Selain itu, Survei Pasar Otomotif juga menunjukkan bahwa persaingan ketat dari gelombang kendaraan listrik (EV) asal Tiongkok yang masuk ke pasar Thailand turut berkontribusi pada penurunan ini, seperti yang dilaporkan oleh Federasi Industri Thailand (FTI) pada Februari 2025. Tingkat penolakan pinjaman mobil di Thailand bahkan dilaporkan mencapai 70% pada awal 2025.

Sebaliknya, Malaysia menunjukkan performa yang mengesankan dengan mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 6,6%, mencapai 390.296 unit terjual. Kenaikan ini ditopang oleh fondasi ekonomi domestik yang tangguh, pertumbuhan PDB yang solid (5.2% di tiga kuartal pertama 2024), tingkat suku bunga kebijakan (OPR) yang stabil di 3% sejak Mei 2023, serta kepercayaan konsumen yang tinggi. Selain itu, Survei Pasar Otomotif di Malaysia menyoroti banyaknya pesanan yang belum terpenuhi, terutama untuk model-model entry-level dari produsen mobil nasional seperti Perodua dan Proton, yang memegang sekitar 60% pangsa pasar. Adanya pengecualian pajak penjualan untuk kendaraan domestik sebagai bagian dari paket stimulus pemerintah juga turut mendongkrak penjualan.

Indonesia, meskipun tetap menjadi kontributor terbesar penjualan mobil di kawasan ini dengan pangsa 27,3%, juga mengalami kontraksi sebesar 19% dengan 408.012 unit terjual. Perbandingan ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan pasar bersifat regional, kebijakan internal dan kondisi ekonomi makro setiap negara memainkan peran krusial dalam menentukan performa individu. Keberhasilan Malaysia menjadi pelajaran penting tentang bagaimana dukungan pemerintah dan fokus pada kebutuhan pasar lokal dapat menghasilkan pertumbuhan di tengah gelombang perlambatan.